Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Ada pertanyaan yang barangkali perlu kita ajukan dengan jujur kepada diri sendiri: untuk apa semua pengalaman yang kita jalani di pesantren jika pada akhirnya hanya menjadi kenangan pribadi?
Bertahun-tahun seorang santriwati hidup dalam lingkungan pondok pesantren. Bangun sebelum matahari terbit. Berwudu dalam suasana pagi yang sunyi. Menunaikan salat berjamaah. Mengaji. Menghafal. Belajar di kelas. Mengikuti kajian. Berinteraksi dengan ustazah dan musyrifah. Belajar hidup bersama teman-teman dari berbagai daerah. Mengikuti kegiatan organisasi. Menjalani disiplin. Menghadapi rindu kepada keluarga. Belajar mandiri. Jatuh, bangkit, menangis, tertawa, lalu tumbuh menjadi pribadi yang semakin matang.
Semua itu adalah pengalaman pendidikan yang luar biasa. Tetapi pertanyaannya kembali muncul: berapa banyak dari pengalaman itu yang dituliskan? Jangan-jangan terlalu banyak pengalaman berharga santriwati hanya berhenti menjadi cerita di antara teman sekamar. Jangan-jangan begitu seorang santriwati lulus dari pesantren, sebagian besar pengalaman intelektual dan spiritualnya perlahan memudar bersama waktu.
Di sinilah menulis di blog menjadi penting. Menulis bukan sekadar kegiatan mengetik kata demi kata. Bagi seorang santriwati, menulis adalah cara untuk mengabadikan pengalaman, merawat ingatan, membagikan ilmu, menyuarakan perspektif, dan meninggalkan jejak intelektual dari kehidupan pesantren.
Santriwati tidak boleh hanya menjadi objek yang menerima pendidikan. Ia harus tumbuh menjadi subjek yang mampu menceritakan, merefleksikan, dan membagikan pengetahuan yang diperolehnya.
Pesantren Bukan Sekadar Tempat Tinggal dan Belajar
Sering kali orang luar memandang pesantren hanya sebagai tempat belajar agama. Padahal kehidupan pesantren jauh lebih luas. Pesantren adalah ruang pendidikan yang mempertemukan ilmu, tradisi, kedisiplinan, spiritualitas, persaudaraan, kepemimpinan, kemandirian, dan pembentukan karakter.
Seorang santriwati tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an atau memahami hadis. Ia juga belajar bagaimana menghargai guru, hidup bersama orang lain, mengatur waktu, menjaga kebersihan, bertanggung jawab terhadap amanah, berbicara dengan santun, menyelesaikan konflik, bekerja sama, memimpin kegiatan, dan mengendalikan diri.
Bahkan hal-hal kecil yang mungkin dianggap biasa sebenarnya merupakan bagian dari pendidikan. Bangun tepat waktu adalah pendidikan disiplin. Merapikan tempat tidur adalah pendidikan tanggung jawab. Berjamaah adalah pendidikan kebersamaan. Mengantre adalah pendidikan kesabaran. Menyelesaikan tugas adalah pendidikan komitmen. Menghormati ustazah adalah pendidikan adab. Menolong teman yang kesulitan adalah pendidikan kemanusiaan.
Menjalani semua itu selama bertahun-tahun berarti seorang santriwati sesungguhnya sedang mengumpulkan modal pengalaman hidup yang sangat kaya. Sayangnya, pengalaman itu sering kali tidak terdokumentasikan. Padahal pengalaman yang tidak ditulis akan mudah dilupakan.
Menulis adalah Cara Santriwati Merawat Ingatan
Ingatan manusia memiliki keterbatasan. Kita mungkin mengingat suasana pesantren ketika masih menjadi santriwati, tetapi detailnya perlahan menghilang. Kita mungkin ingat nama ustazah yang pernah membimbing kita, tetapi lupa nasihat yang pernah disampaikan. Kita mungkin mengingat sahabat seperjuangan, tetapi lupa bagaimana persahabatan itu tumbuh melalui berbagai ujian. Kita mungkin mengingat malam-malam panjang belajar, tetapi lupa pelajaran kehidupan yang sebenarnya kita dapatkan dari sana.
Menulis membantu menyelamatkan semua itu. Sebuah blog dapat menjadi arsip perjalanan seorang santriwati. Hari ini ia menulis tentang pengalaman pertama masuk pesantren. Besok ia menulis tentang pengalaman mengikuti kajian. Minggu berikutnya ia menulis tentang perjuangan menghafal Al-Qur’an. Kemudian ia menulis tentang kegiatan organisasi, perlombaan, kunjungan pendidikan, kehidupan asrama, persahabatan, dan berbagai pengalaman lainnya.
Lama-kelamaan, blog tersebut menjadi semacam diari intelektual dan pendidikan. Kelak ketika telah menjadi alumni, ia dapat kembali membuka tulisan-tulisan tersebut. Ia akan menemukan dirinya sendiri di sana. Menemukan bagaimana ia pernah berpikir. Menemukan bagaimana ia pernah berjuang. Menemukan bagaimana ia pernah gagal. Dan menemukan bagaimana pesantren telah mengubah dirinya.
Jangan Biarkan Pengalaman Pesantren Hanya Diceritakan dari Sudut Pandang Orang Luar
Ada hal penting lainnya. Selama ini, banyak tulisan tentang pesantren dibuat oleh orang luar. Peneliti menulis tentang pesantren. Wartawan menulis tentang pesantren. Akademisi meneliti pesantren. Penulis membuat buku tentang pesantren. Semua itu penting.
Namun ada satu suara yang tidak boleh hilang: suara santri sendiri. Siapa yang lebih tahu bagaimana rasanya menjadi santriwati selain santriwati yang menjalaninya? Bagaimana rasanya hidup jauh dari orang tua? Bagaimana rasanya berbagi kamar dengan teman yang memiliki karakter berbeda?
Bagaimana rasanya harus mengikuti jadwal yang ketat? Bagaimana rasanya menghadapi ujian hafalan? Bagaimana rasanya mendapatkan nasihat dari ustazah? Bagaimana rasanya ketika pertama kali berhasil menyelesaikan target hafalan? Bagaimana rasanya ketika gagal dalam sebuah perlombaan?
Bagaimana rasanya menjadi seorang remaja yang sedang mencari jati diri, tetapi pada saat yang sama harus hidup dalam sistem pendidikan yang penuh disiplin? Semua itu adalah pengalaman yang hanya dapat diceritakan secara autentik oleh santriwati sendiri. Karena itu, santriwati harus berani menulis tentang pesantrennya dengan perspektifnya sendiri.
Santriwati Bukan Hanya Konsumen Informasi
Zaman digital telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Hari ini, santriwati bukan hanya pembaca buku. Ia juga membaca artikel. Menonton video. Mengikuti podcast. Mengakses media sosial. Mencari informasi melalui mesin pencari. Namun jangan sampai santriwati hanya menjadi konsumen informasi. Ia juga harus belajar menjadi produsen pengetahuan.
Blog memberikan ruang yang sangat baik untuk itu. Ketika seorang santriwati menulis artikel tentang pengalaman belajarnya, ia sedang memproduksi pengetahuan. Ketika ia menjelaskan kembali materi yang dipelajarinya, ia sedang membagikan pengetahuan. Ketika ia menulis refleksi tentang kehidupan pesantren, ia sedang menyumbangkan perspektif. Ketika ia menulis tentang kitab yang dibacanya, ia sedang membuka jalan bagi orang lain untuk mengenal khazanah keilmuan Islam.
Inilah perubahan penting yang harus terjadi. Santriwati tidak boleh hanya bertanya, “Apa yang saya dapat dari pesantren?” tetapi juga harus bertanya, “Apa yang dapat saya bagikan dari pesantren?”
Khazanah Keilmuan Pesantren Sangat Luas
Seorang santriwati mungkin tidak menyadari bahwa selama berada di pesantren, ia telah bersentuhan dengan khazanah ilmu yang sangat luas. Ia belajar Al-Qur’an. Ia belajar tafsir. Ia belajar hadiTs. Ia belajar fikih. Ia belajar akidah.
Ia belajar akhlak. Ia belajar sejarah Islam.
Ia belajar bahasa Arab. Ia mungkin belajar bahasa Inggris.
Ia belajar membaca kitab. Ia belajar retorika dan pidato.
Ia belajar organisasi. Ia belajar kepemimpinan.
Ia belajar literasi digital. Ia belajar ilmu sosial. Ia belajar budaya.
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia belajar psikologi sosial secara tidak langsung: memahami karakter teman, menyelesaikan perbedaan, bekerja sama, mengelola emosi, dan berkomunikasi. Betapa banyak sebenarnya yang dapat ditulis!
Misalnya, seorang santriwati dapat menulis: “Apa yang Saya Pelajari dari Membaca Kitab?”
Atau: “Mengapa Adab kepada Guru Begitu Penting dalam Tradisi Pesantren?”
Atau: “Pelajaran Kepemimpinan yang Saya Dapatkan dari Organisasi Santri.”
Atau: “Belajar Mandiri Jauh dari Orang Tua.”
Atau: “Mengapa Kehidupan Asrama Mengajarkan Saya Tentang Toleransi?”
Atau: “Dari Tahfiz Al-Qur’an Saya Belajar Tentang Konsistensi.”
Judul-judul tersebut sederhana. Tetapi di baliknya terdapat pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga.
Menulis Membantu Santriwati Memahami Apa yang Dipelajarinya
Ada sebuah kenyataan menarik: orang yang menjelaskan sesuatu kepada orang lain biasanya akan memahami sesuatu itu lebih baik. Karena itu, menulis bukan hanya memberi manfaat kepada pembaca. Menulis juga membantu penulis memahami dirinya sendiri.
Misalnya seorang santriwati baru selesai mempelajari tentang sabar. Jika ia hanya membaca materi, mungkin pemahamannya berhenti pada definisi. Tetapi ketika ia mencoba menulis: “Apa arti sabar dalam kehidupan saya sebagai santriwati?” Ia mulai menghubungkan teori dengan pengalaman.
Ia mengingat ketika gagal menghafal. Ia mengingat ketika mendapat teguran. Ia mengingat ketika rindu kepada orang tua. Ia mengingat ketika harus menghadapi konflik dengan teman.
Dari sana, konsep sabar menjadi hidup. Begitu pula dengan ikhlas, disiplin, amanah, tawakal, ukhuwah, adab, tanggung jawab, dan nilai-nilai lainnya. Menulis mengubah pelajaran dari sekadar pengetahuan menjadi pengalaman yang direfleksikan.
Blog Bisa Menjadi Jembatan antara Pesantren dan Masyarakat
Pesantren terkadang memiliki persoalan klasik: masyarakat mengenalnya dari luar, tetapi tidak selalu memahami kehidupan di dalamnya. Ada yang menganggap pesantren terlalu tertutup. Ada yang menganggap kehidupan santri hanya berkutat pada kitab dan ibadah. Ada yang belum mengetahui bahwa pesantren juga dapat menjadi tempat tumbuhnya keterampilan, kepemimpinan, sains, teknologi, kreativitas, dan kemampuan komunikasi.
Santriwati yang menulis dapat menjadi jembatan. Ia dapat memperkenalkan kehidupan pesantren kepada masyarakat melalui pengalaman yang autentik. Ia dapat menunjukkan bahwa kehidupan pesantren tidak sesederhana stereotip yang sering beredar. Ia dapat menceritakan bagaimana santriwati belajar agama sekaligus belajar teknologi.
Bagaimana mereka belajar Al-Qur’an sekaligus belajar bahasa asing. Bagaimana mereka menjaga tradisi sekaligus menghadapi dunia modern. Bagaimana mereka dididik menjadi pribadi yang beradab sekaligus memiliki keberanian untuk berkompetisi. Dengan demikian, blog seorang santriwati dapat menjadi jendela pesantren bagi dunia luar.
Jangan Takut Tulisanmu Tidak Sempurna
Banyak santriwati mungkin berpikir: “Saya belum pandai menulis.” “Saya masih belajar.” “Saya takut salah.” “Saya tidak punya pengalaman yang menarik.” “Saya bukan penulis.” Justru karena itulah mulai menulis.
Tidak ada seorang penulis yang langsung mahir sejak tulisan pertama. Tulisan pertama mungkin kaku. Tulisan kedua mungkin masih banyak kekurangan. Tulisan ketiga mungkin mulai lebih baik. Setelah sepuluh tulisan, kita mulai menemukan gaya. Setelah lima puluh tulisan, kita mulai menemukan suara.
Setelah seratus tulisan, kita mungkin mulai menyadari bahwa menulis telah menjadi bagian dari diri kita. Jangan menunggu menjadi penulis untuk mulai menulis. Menulislah agar suatu hari nanti kita benar-benar menjadi penulis.
Menulis adalah Bentuk Syukur
Ada cara lain memandang kegiatan menulis: menulis adalah bentuk syukur. Jika pesantren telah memberikan ilmu, pengalaman, persahabatan, kedisiplinan, dan perubahan dalam hidup kita, mengapa tidak membagikannya?
Ilmu adalah amanah. Pengalaman adalah pelajaran. Kesempatan belajar adalah nikmat. Dan salah satu bentuk mensyukuri nikmat ilmu adalah membagikannya kepada orang lain. Bukan untuk menyombongkan diri. Bukan untuk mengatakan bahwa pengalaman kita paling hebat. Tetapi untuk mengatakan, “Inilah yang saya pelajari. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi orang lain.” Kalimat sederhana itu dapat menjadi motivasi besar bagi seorang pembaca yang sedang membutuhkan.
Santriwati Hari Ini, Penulis Masa Depan
Kita tidak pernah tahu masa depan seorang santriwati. Hari ini ia mungkin duduk di bangku kelas. Besok ia mungkin menjadi guru. Lusa menjadi dosen. Mungkin menjadi dokter. Mungkin menjadi pengusaha. Mungkin menjadi peneliti. Mungkin menjadi jurnalis. Mungkin menjadi ulama. Mungkin menjadi pemimpin. Mungkin menjadi ibu yang mendidik anak-anaknya.
Apa pun profesinya kelak, pengalaman pesantren akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bayangkan jika semua pengalaman itu telah terdokumentasikan sejak ia masih menjadi santriwati. Ia akan memiliki arsip perjalanan hidup yang luar biasa.
Blog yang awalnya hanya berisi cerita sederhana tentang kehidupan asrama mungkin kelak berubah menjadi dokumentasi perjalanan intelektual seseorang. Dan lebih jauh lagi, tulisan-tulisan para santriwati hari ini suatu saat dapat menjadi sumber sejarah kehidupan pesantren pada zamannya. Sebab sejarah tidak hanya dibangun dari dokumen resmi.
Sejarah juga dibangun dari kesaksian manusia yang mengalami suatu peristiwa. Karena itu, tulisan santriwati hari ini mungkin saja menjadi sumber berharga bagi peneliti di masa depan untuk memahami bagaimana kehidupan pesantren pada generasi kita.
Jangan Biarkan Cerita Santriwati Hilang Ditelan Waktu
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah apakah seorang santriwati bisa menulis dengan sempurna. Pertanyaannya adalah, “Apakah ia bersedia membagikan pengalaman dan pengetahuan yang telah diperolehnya? Jika jawabannya ya, maka mulailah.
Buat blog. Pilih tema. Tuliskan pengalaman. Bagikan materi pelajaran. Ceritakan kitab yang sedang dibaca. Tuliskan hikmah dari kajian. Ceritakan kegiatan pesantren. Tuliskan pengalaman organisasi. Refleksikan kehidupan asrama. Tuliskan perjalanan menghafal Al-Qur’an.
Ceritakan pengalaman bertemu guru-guru yang menginspirasi. Tuliskan tradisi pesantren yang menurutmu penting untuk dilestarikan. Tuliskan pula kegelisahan, pertanyaan, dan cita-cita sebagai seorang santriwati. Tidak perlu menunggu lulus. Justru tulislah ketika masih berada di pesantren.
Sebab ada pengalaman yang hanya dapat ditulis dengan jujur ketika kita masih menjalaninya. Kelak ketika telah menjadi alumni, kita mungkin akan merindukan suasana itu. Rindu suara azan. Rindu suara langkah kaki menuju masjid. Rindu suasana belajar.
Rindu teguran ustazah. Rindu teman sekamar. Rindu makan bersama. Rindu malam-malam belajar. Rindu segala kesederhanaan yang dahulu mungkin terasa berat. Dan ketika kerinduan itu datang, kita dapat membuka kembali tulisan-tulisan lama. Di sana kita akan menemukan diri kita yang pernah berjuang.
Kita akan menemukan seorang santriwati yang dahulu mungkin masih polos, tetapi penuh cita-cita. Kita akan menemukan pelajaran-pelajaran yang pernah diterima. Dan kita akan menyadari bahwa ternyata pesantren telah memberikan begitu banyak hal.
Maka, menulislah, wahai santriwati. Jangan biarkan pengalamanmu hanya menjadi cerita yang hilang setelah engkau meninggalkan pesantren. Jangan biarkan khazanah ilmu yang engkau pelajari hanya tersimpan di buku catatan. Jangan biarkan nasihat guru menguap bersama waktu. Jangan biarkan tradisi baik pesantren hanya dikenang oleh orang-orang yang pernah hidup di dalamnya.
Tuliskan. Bagikan. Abadikan. Karena setiap tulisan yang lahir dari pengalaman dan ilmu yang jujur adalah sebuah warisan. Mungkin hari ini tulisanmu hanya dibaca oleh teman. Besok mungkin dibaca oleh adik kelas. Lusa mungkin ditemukan oleh seseorang yang sedang mencari jawaban di internet.
Dan bertahun-tahun kemudian, bisa jadi tulisanmu menjadi kesaksian bahwa pernah ada seorang santriwati yang belajar, berjuang, berpikir, dan tumbuh di sebuah pesantren. Menulis adalah cara seorang santriwati berkata kepada dunia: “Saya pernah belajar di sini, saya mendapatkan ilmu di sini, saya tumbuh di sini, dan saya ingin pengalaman ini terus memberikan manfaat.”
Sebab pesantren tidak hanya membutuhkan santri dan santriwati yang pandai membaca kitab. Pesantren juga membutuhkan generasi yang mampu membaca zaman, menulis pengalaman, memproduksi pengetahuan, dan menyuarakan nilai-nilai pesantren kepada dunia. Dan mungkin, salah satu langkah kecil menuju ke sana adalah: membuka blog, lalu mulai menulis hari ini.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pemateri Kepenulisan/Mengajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Fikih dan Al-Qur’an-Hadits di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar