Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Kitab Kuning yang dipelajari di Pesantren IMMIM
BLOGGURU – Bagi seorang santri, pelajar, mahasiswa dan sarjana muslim, wajib mengakrabi kitab kuning. Mengapa harus demikian? Ya, karena menurut penulis, itulah sumber otentik untuk belajar khazanah keilmuan Islam dari para ulama’.
Kitab kuning atau lazim juga disebut sebagai “kitab gundul”, disebut demikian karena warna kertasnya adalah kuning atau kekuningan, sedang disebut kitab gundul karena ditulis dalam Bahasa Arab tanpa baris/harakat. Kitab kuning banyak sekali jumlah dan macamnya di Pesantren. Kesemuanya menjadi bahan pembelajaran bagi santri, pelajar dan mahasiswa muslim dalam memahami khazanah keilmuan islam, dari Ilmu Tauhid, Pelajaran Bahasa Arab, Nahwu Shorof, Ilmu Fikih, ‘Ulumul Qur’an, Ilmu Hadits, Aqidah-Akhlak, Ilmu Tafsir, dan lain-lain.
Kalau kitab kuning karya para ulama’ itu berbahasa Arab tanpa baris dan harakat, lantas bagaimana membacanya? Ya, disinilah pentingnya belajar satu ilmu “Qira’atul Kutub” yang asal usulnya adalah Ilmu Nahwu-Shorof, rumpun ilmu Bahasa Arab. Tidak akan bisa dan tidak bakalan mampu membaca kitab kuning jika tidak menguasai dan mahir Nahwu-Shorof, serta ilmu-ilmu keislaman lainnya terkait bidang ilmu dalam kitab kuning yang akan dipelajari.
Karena itu cara mengakrabi Kitab Kuning adalah belajar Nahwu-Shorof, memperbanyak menghafal kosakata Arab dan memahirkan bercakap-cakap Bahasa Arab. Diatas semua cara itu, adalah kecintaan dan semangat belajar khazanah keilmuan Islam agar kita tidak cepat putus asa dan menyerah ketika menemui hambatan belajar. Belajar Nahwu-Shorof perlu ketekunan dan kesabaran, karena akan banyak kaidah bahasa (gramatika Arab) yang perlu dihafalkan.
Dalam belajar Nahwu-Shorof tidak bisa sendiri, beberapa orang mungkin bisa, tetapi banyak yang berguguran, cepat lelah dan akhirnya patah semangat di jalan. Untuk efektif belajar Nahwu Shorof, kita perlu partner belajar dalam memahami dan menghafalkan banyak kaidah: jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah, serta turunan-turunan kaidahnyanya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah wajib berguru, harus ada guru atau ustadz yang membimbing. Tentu saja, yang penulis maksudkan disini adalah: Guru Nahwu-Shorof atau Guru Bahasa Arab.
Beberapa referensi/kitab dalam belajar Ilmu Nahwu-Shorof adalah: Kitab Matn Ajurumiyah, Imrithi’, Mutammimah Ajurumiyah, Nahwu Wadhih (Jilid 1,2,3), Mulhatul I’rab, Qatrunnada wa Bhallushada, Amtshilatu Tashrifiyah, Matn Kailani, Qowaidush Shorfiyyah, Qowaidul I’lal, Matn Alfiah Ibnu Malik, dan lain sebagainya. Dalam penggunaan kitab referensi ini, harus berjenjang dan bertahap, karena ketika lompat-lompat pembahasannya dalam belajar Nahwu-Shorof, maka dikhawatirkan akan banyak kaidah yang tidak dikuasai cara pakai dan penempatannya dalam kalimat.
Untuk lebih memahami kitab kuning yang sebenarnya, cara mengakrabinya dan bagaimana belajar Nahwu Shorof itu, silakan dibuka dan dipelajari link berikut ini:
– Kitab Kuning yang Wajib dipelajari Santri dan Ustadz
– Mengakrabkan Diri dengan Kitab Kuning di Pesantren
– Matn Al-Ajrumiyah karya Abu Abdullah Muhammad Ash-Shinhaji Ibnu Ajurrum (w. 723 H). Download: الآجرومية , Lihat pula: Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 1, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 2, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 3, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 4, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 5, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 6.
– Penjelasan Singkat tentang Matan Mulhatul I’rob
– Cara Mudah dan Cepat Bisa Membaca Kitab Kuning
– Download Kitab Pembelajaran Bahasa Arab dan Nahwu-Shorof
Demikian catatan singkat ini, semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep.
Tinggalkan Komentar